Dualisme Bukan Dosa Politik

Dualisme Parpol itu hal yang biasa dan sering sekali terjadi dalam sejarah politik Indonesia. Bukan hal aneh, jika itu terjadi di tubuh PD.

Faktor utamanya, karena parpol-parpol itu kebanyakan dibangun atas dasar kepentingan-kepentingan pragmatisme banyak kelompok. Tujuan mereka membangun partai untuk mengakses kekuasaan dan ujung-ujungnya menguasai sumber daya, terutama uang. Bukan soal idiologi, apalagi soal perjuangan kesejahteraan rakyat banyak. (Selogan semu & pasir itu kata-kata "berjuang demi rakyat" )
Kumpulan dari beberapa faksi-faksi dalam parpol itu akan selalu berusaha merebut kendali partai. Tak jarang pula, faksi yang kecil di internal akan memboyong kekuatan dari luar untuk memperkuat peluang merebut kendali parpol. Entah itu dengan cara KLB, mobilisasi dukungan lewat uang, penggalangan opini, bulying dan macam-macam.
Nah, kalau yang tampak dalam PD itu, setidak-tidaknya nama-nama yang muncul di media sebagai inisiator & konsolidator kontra AHY adalah orang-orang lama dan bisa dibilang tua. Cuma mereka bisa jadi masih punya akses ke bawah (DPD/DPC) dan ke sumber dana. Masa "paceklik" seperti ini, para pemilik suara dalam pengambilan keputusan partai rentan tepengaruh oleh tawaran-tawaran pragmatis ala politisi Indonesia.
Semestinya, AHY memperkuat barisan muda PD untuk tetap menjaga geliat di bawah, jangan sampai memporak-porandakan posisi AHY di tingkat DPP, DPD, DPC (Pemilik Suara Sah) dalam Kongres Partai. Atau setidak-tidaknya jangan sampai kelompok yang mendorong KLB menguasai pemilik suara sah.
Dengan cara itu, AHY akan tampil sebagai sosok yang memimpin kalangan muda PD untuk menyelamatkan Partai dan posisinya.
Kalau hanya mengandalkan cuitan-cuitan ala beberapa elit PD seperti yang sering terjadi selama ini, ya siap-siap aja PD mengalami dualisme kepemimpinan. Jika sudah terjadi dualisme, energi mereka akan habis berputar-putar di konflik internal, sehingga agenda-agenda politik menghadapi situasi politik kedepan akan terbengkalai.
Kalau memang berhadapan dengan paham tua bermodalkan argumentasi & penguasaan opini tidak bisa, maka "arena jalanan" juga sah sebagai strategi untuk menegaskan kekuatan.
Cuma sayangnya, apakah AHY kategori ikut pahan tua atau anak muda.? Itu yang kurang jelas.!
Itupun awak sok tau ajanya, soalnya awak belum pernah camping bareng dengan klan Susilo, selain
Goenz Susilo
di Sekret
Formadas
Simpang Limun saat mahasiswa mbien..!!
🤣🤣🤣

Tidak ada komentar