π—žπ—”π—‘π—š π——π—˜π——π—œ π— π—¨π—Ÿπ—¬π—”π——π—œ & π—¦π—œπ—žπ—”π—£ π—§π—˜π—₯π—•π—¨π—žπ—” π—ͺ𝗔π—₯π—šπ—” π——π—˜π—¦π—”

Pasca idul fitri saya lebih tertarik weekend bepergian ke desa-desa di Jawa Barat. Meskipun belum banyak desa yang bisa saya jalani. Tetapi hal menarik selalu hadir dari warga desa. Salah satunya keterbukaan mereka untuk berbincang dengan berbagai topik.

Salah satu Desa di Kecamatan Wado, Sumedang merupakan tempat pertama saya kunjungi. Dengan mobil tergolong kecil, atau city car, sebenarnya upaya menuju lokasi termasuk perjuangan dengan hati was-was. Sebabnya, Desa berada di atas ketinggian dengan rute jalan kecil berliku, sisi kiri-kanan lereng bukit gundul di atas waduk Jatigede. Jika tidak ada kesabaran saat berpapasan dengan kendaraan lain. Nasib perjalanan berhenti dan terguling adalah sesuatu yang sangat mungkin terjadi.

Dengan semua kondisi dan rute perjalanan, maka jarak tempuh sekitar 7 jam dari Jakarta. Pilihan berangkat pukul 03.00 WIB menjadi keharusan. Tujuannya, agar waktu bercengkerama dengan warga setelah perjalanan jauh bisa lebih banyak. 

Setelah tiba di salah satu rumah warga, yaitu Bapak H. Asep. Kami merasakan bagaimana udara sejuk membuat nyaman suhu badan. Suara-suara burung bersahut-sahutan. Sesekali suara kendaraan bermotor melintas di jalan yang sunyi depan rumah warga. Kudapan-kudapan kecil seperti Kacang Rebus, Tahu Sumedang, Singkong Goreng dan Kopi Cakra Buana tersaji di atas meja. 

Sahabat-sahabat H. Asep berangsur-angsur datang dan bergabung. Meskipun masih didominasi oleh para kaum Bapak. Candaan-candaan mengalir penuh kehangatan. Topik perbincangan dari soal kondisi jalan, pertambangan pasir dan batu, hingga masalah distribusi hasil pertanian. Bisa jadi pertemuan kecil seperti ini disebut tradisi ngariung, salah satu ruh dari kebudayaan Sunda di masa lalu. Tapi saya menyebutnya aktivitas 3N (Ngobrol, Ngudud, Ngopi) 

Yang sangat menarik bagi saya, walaupun media sosial telah mendominasi umat manusia, H. Asep dan kawan-kawan masih bisa melihat problem sosial pedesaan dengan pendekatan orientasi pembangunan daerah. Mereka berpendapat Jawa Barat seolah-olah hanya kota-kota besar. Padahal luasnya Jawa Barat berbanding lurus dengan jumlah pedesaan. Seharusnya, orientasi pembangunan Jawa Barat adalah mengoptimalkan pembangunan desa-desa. Pendapat H. Asep bisa jadi didasari pengalaman dan refleksi-nya sebagai mantan kepala desa.

Perbincangan terus berjalan. Ketika bicara orientasi pembangunan, pendekatan struktural menjadi bagian pembicaraan yang tidak bisa dihindari. Pendekatan struktural tentu saja tidak lepas dari kepemimpinan, misi besar pemimpin dan bagaimana mereka membangun gagasan besar dan berkeadilan di Jawa Barat. 

Bicara kepemimpinan tidak lepas pula bicara sosok atau figur publik yang tersedia di Jawa Barat.

Saat cangkir kedua kopi Cakrabuana saya tuang. Pertanyaan sederhana saya sampaikan. “Dengan kondisi dan problem di desa yang Bapak-Bapak sampaikan, pemimpin seperti apa kira-kira warga Wado harapkan di Jawa Barat?”

Pertanyaan ini seolah menjadi penyulut semangat mereka berpendapat. Namun saya hanya mampu merekam dalam memori kepala dan menyimpulkan, bahwa figur yang mereka inginkan adalah figur yang mampu melihat Jawa Barat dari Desa. Figur yang memahami bahwa membangun Jawa Barat dengan visi besar mengoptimalkan pembangunan desa dan selanjutnya menata kota.

Ketika pertanyaan kedua saya sampaikan. “Apakah saat ini figur yang diharapkan sudah ada untuk menyelesaikan problem-problem di Jawa Barat, sebagaimana yang Bapak- Bapak sampaikan tadi?” Tanpa ragu, Pak H. Asep dan kawan-kawan setuju bahwa Kang Dedi Mulyadi (KDM) figur tepat untuk memimpin Jawa Barat. 

Pendapat H. Asep pasti memiliki dasar. Tentu saja dasar utamanya adalah kinerja Kang Dedi Mulyadi selama ini sebagai Bupati Purwakarta maupun anggota DPR RI. Kinerja-nya bisa dilihat dan dinilai oleh siapapun, bukan hanya warga Jawa Barat, termasuk warga di luar Jawa Barat.

Usai perjalan ke Sumedang, saya berkeyakinan bahwa sikap seperti H. Asep dan kawan-kawan di Wado Sumedang pasti sangat banyak di Jawa Barat. Desa-desa yang selama ini tidak tersentuh pembangunan, pasti menginginkan perubahan besar di Jawa Barat. Tentu saja perubahan itu tidak lahir dari proses politik. Tetapi dari proses gerakan sosial dan kebudayaan untuk merubah kesadaran warga Jabar melihat realitas mereka saat ini. 

Jika ingin bercita-cita yang lebih baik di masa depan. Mestinya mereka mengingat bahwa masa lalu adalah cerminan dan masa sekarang adalah akibat dari masa lalu. Sebagaimana ungkapan tradisional Sunda "Hana nguni hana mangkΓ©, tan hana nguni tan hana mangkΓ©, aya ma beuheula aya tu ayeuna, hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna. Hana tunggak hana watang, tan hana tunggak tan hana watang. Hana ma tunggulna aya tu catangna." (Sanghyang Siksa Kandang Karesian)

Artinya: Ada dahulu ada sekarang, bila tak ada dahulu tak akan ada sekarang, karena ada masa silam maka ada masa kini, bila tak ada masa silam takkan ada masa kini. Ada tunggak tentu ada batang, bila tak ada tunggak tak akan ada batang, bila ada tunggulnya tentu ada batangnya.[5] Wikipedia.org

Atau kalau disederhanakan. Jika ada kepemimpinan yang tidak berorientasi pada problem-problem pedesaan, sebagaimana diskusi dengan H. Asep di Wado, ya karena mereka memilih pemimpin model seperti itu di masa lalu. Kalau ingin kondisi dan orientasi pembangunan Jawa Barat di masa mendatang berpihak pada warga desa, sebaiknya mereka memilih yang punya gagasan Ngurus Lembur, Nata Kota” Siapa figur yang punya gagasan itu? Ya Kang Dedi Mulyadi yang saya tahu. 

Akhir kata, terima kasih Bapak H. Asep dan kawan-kawan di Sumedang. Atas waktu, ide-ide dan kudapan pelengkap 3N (Ngobrol, Ngudud, Ngopi). Sehat selalu, saling dukung dan terus terhubung.

Jakarta 09 Mei 2023

Juson Simbolon
Blogger & Yotuber

#jabaristimewa
#kangdedimulyadi
#fkdm

Tidak ada komentar